PEDOMAN SUARA.COM – Di tengah derasnya arus informasi digital, ketika kecepatan kerap mengalahkan ketepatan dan opini sering menyamar sebagai fakta, masih ada jurnalis yang memilih menempuh jalan sunyi: memegang teguh integritas.
Sosok itu adalah Mikael Risdiyanto Setyabudi, seorang jurnalis yang dikenal konsisten mengawal isu-isu hukum, pemerintahan, pendidikan, hak asasi manusia, hingga pemberantasan korupsi.
Baginya, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan mencari berita, melainkan pengabdian kepada kepentingan publik.
Lahir di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Mikael membangun karier jurnalistik dengan keyakinan bahwa pers memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia memandang setiap berita sebagai catatan sejarah yang kelak menjadi rujukan publik dalam memahami sebuah peristiwa.
Dalam perjalanan profesinya, Mikael banyak menaruh perhatian pada liputan investigatif, khususnya yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan dan dugaan penyimpangan penggunaan anggaran publik.
Baginya, keberanian seorang wartawan tidak diukur dari kerasnya kritik yang disampaikan, melainkan dari ketelitian mengumpulkan data, melakukan verifikasi, dan menjaga independensi.
“Seorang jurnalis harus berdiri di atas fakta, bukan di atas kepentingan siapa pun,” menjadi prinsip yang kerap ia sampaikan ketika berbicara mengenai etika profesi wartawan.
Di ruang redaksi, Mikael dikenal lebih senang menghabiskan waktu membaca dokumen, menelusuri data, dan membangun jaringan narasumber daripada mengejar sensasi.
Ia percaya bahwa laporan jurnalistik yang baik lahir dari kesabaran, bukan dari tergesa-gesa menjadi yang pertama.
Perkembangan teknologi digital juga tidak dipandangnya sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat kualitas pemberitaan.
Menurutnya, jurnalisme modern harus mampu memanfaatkan data, dokumen publik, serta teknologi informasi tanpa meninggalkan prinsip dasar verifikasi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran tokoh pers dunia Joseph Pulitzer yang pernah mengatakan, “Our Republic and its press will rise or fall together.”
Kutipan itu menggambarkan bahwa kualitas demokrasi tidak dapat dipisahkan dari kualitas pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial.
Bagi Mikael, wartawan bukanlah aktivis politik, bukan pula humas kekuasaan. Wartawan adalah penjaga ruang publik agar masyarakat memperoleh informasi yang benar untuk mengambil keputusan secara rasional.
Di tengah meningkatnya tantangan terhadap kebebasan pers, tekanan ekonomi media, serta derasnya penyebaran disinformasi, sosok jurnalis yang tetap memegang teguh kode etik menjadi semakin penting.
Profesionalisme, integritas, dan keberanian menjaga independensi merupakan modal utama agar pers tetap dipercaya masyarakat.
Perjalanan Mikael Risdiyanto menunjukkan bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal menulis berita setiap hari.
Lebih dari itu, profesi ini adalah ikhtiar menjaga demokrasi melalui fakta, memperjuangkan transparansi melalui informasi yang terverifikasi, serta memastikan suara masyarakat tetap memiliki ruang di tengah berbagai kepentingan yang saling bersaing.
Di era ketika informasi dapat diproduksi oleh siapa saja, jurnalis profesional tetap memiliki peran yang tak tergantikan: memastikan bahwa setiap fakta telah diuji sebelum disampaikan kepada publik.
Di situlah nilai seorang wartawan sesungguhnya, dan di jalur itulah Mikael Risdiyanto memilih mengabdikan dirinya. (***)








