Menu

Mode Gelap
Eksekusi Tanah Parang Tambung: Advokat Nilai AJB 135/KT/1984 Cacat Hukum, Dugaan Pengrusakan Masuk Ranah Hukum Polresta Gowa Terbitkan DPO, Ramadhan Kini Jadi Buron Kasus Dugaan Asusila Anak Di Bawah Umur Antrean BBM Mengular di Sejumlah SPBU di Makassar, Lintas Mata Nusantara Desak Pemerintah dan Pertamina Bertindak Sekdes Tinggimae Diduga Halangi Kerja Jurnalistik, Sorot Sulsel Desak Polres Gowa Bertindak Massa LPRI Geruduk Polresta Gowa, Kasat Reskrim Janji 7×24 Jam Tangkap Terlapor Dugaan TPKS Anak di Bawah Umur Motor Modifikasi Thunder Bikin Resah Pengendara di Antrean SPBU Bawakaraeng-Urip Sumoharjo

Hukum Dan Kriminal

Apes! Proyek Irigasi Balai dan Rawa Pompengan Diduga Asal Jadi, Warga Masamba Mengaku Kena Imbas Banjir 

badge-check

Proyek Irigasi Balai dan Rawa Pompengan diduga tak sesuai bestek hingga memicu keluhan warga Desa Bunga Pati yang kerap banjir, Senin (01/09/2026) (Foto: Tim Redaksi) Perbesar

Proyek Irigasi Balai dan Rawa Pompengan diduga tak sesuai bestek hingga memicu keluhan warga Desa Bunga Pati yang kerap banjir, Senin (01/09/2026) (Foto: Tim Redaksi)

PEDOMAN SUARA, MASAMBA – Nasib apes kini harus ditanggung oleh warga Desa Bunga Pati, Kabupaten Masamba. Proyek pembangunan irigasi Balai dan Rawa Pompengan tahun anggaran 2026 yang semula diharapkan membawa berkah bagi sektor pertanian, kini justru berbalik menjadi petaka bagi pemukiman mereka.

Kondisi warga Desa Bunga Pati bisa disebut sangat apes. Bahkan, nasib mereka bisa dibilang “sudah apes, tertimpa tangga pula.”

Alih-alih untung, pengerjaan pembangunan infrastruktur pengairan tersebut diduga kuat dikerjakan asal-asalan dan melanggar spesifikasi teknis (bestek) yang telah direncanakan malah justru mendatangkan bencana banjir bagi pemukiman mereka.

Bukannya mengalirkan air ke lahan persawahan, warga mengaku saluran irigasi yang bermasalah ini malah memicu luapan air yang merendam rumah-rumah warga setiap kali hujan turun.

Masyarakat setempat merasa sangat dirugikan karena uang negara yang bersumber dari pajak rakyat terkesan dihambur-hamburkan untuk proyek diduga cacat mutu.

Sebagai warga negara, dana proyek tersebut dibiayai dari uang rakyat (pajak mereka). Sialnya, uang mereka sendiri yang digunakan untuk membangun infrastruktur yang diduga merusak rumah dan mata pencaharian mereka sendiri.

Keapesan warga semakin lengkap karena mereka kini harus mengungsi dan menanggung kerugian materiil akibat banjir buatan tersebut.

Warga tidak punya kendali atas bagaimana kontraktor mengeksekusi proyek tersebut, namun mereka yang harus menanggung akibat buruknya setiap kali hujan turun.

Diduga Aliran Air Justru Jebol ke Pemukiman

Salah seorang warga Desa Bunga Pati yang menolak disebutkan identitasnya demi alasan keamanan mengungkapkan, kekecewaan masyarakat sudah berada di puncaknya. Menurutnya, pengerjaan fisik di lapangan terlihat sangat jauh dari standar dokumen perencanaan teknis.

“Masyarakat di sini mengadu, saluran irigasi Balai dan Rawa Pompengan ini pengerjaannya diduga tidak sesuai bestek. Akibatnya, Desa Bunga Pati jadi sering banjir. Saat hujan turun, air tidak tertampung dan mengalir deras ke pemukiman warga. Kami justru dirugikan, bukan diuntungkan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya kepada tim media, Senin (01/09/2026).

Kondisi ini membuat aktivitas harian warga lumpuh total. Sawah yang harusnya subur terancam fuso (gagal panen), sementara perabotan rumah tangga warga banyak yang rusak akibat terendam air lumpur.

Warga Tuntut Audit dan Pertanggungjawaban

Menyikapi bencana yang dipicu oleh faktor kelalaian manusia (man-made disaster) ini, warga mendesak instansi terkait termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang selaku pembina proyek untuk segera mengambil tindakan tegas.

“Kami berharap pemerintah tidak menutup mata. Anggaran itu uang rakyat, harus dikerjakan sesuai rencana dan standar. Jangan sampai warga yang harus menanggung kerugian akibat pekerjaan yang tidak tepat guna,” tegas perwakilan warga tersebut.

Masyarakat menuntut adanya pemeriksaan teknis secara menyeluruh di lapangan untuk memverifikasi kesesuaian hasil kerja kontraktor dengan anggaran miliaran rupiah yang telah digelontorkan.

Jika ditemukan bukti kongkalikong atau pengurangan spesifikasi, warga meminta aparat penegak hukum segera mengusut tuntas indikasi korupsi dalam proyek irigasi ini.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa keapesan masyarakat sering kali bukan murni karena faktor alam, melainkan dampak dari lemahnya pengawasan pengerjaan infrastruktur publik di lapangan.

Hingga naskah berita ini diturunkan, baik pihak kontraktor pelaksana maupun dinas teknis terkait masih bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi mengenai keluhan serta tuntutan ganti rugi dari warga Desa Bunga Pati.

Redaksi akan terus berupaya untuk melakukan konfirmasi dan membuka ruang Hak Jawab dan Hak Koreksi seluas-luasnya sesuai amanat Pasal 5 ayat (2) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Bagi pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait yang merasa dirugikan atau ingin memberikan klarifikasi atas pemberitaan ini. (Tim)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Trending di Hukum Dan Kriminal