PEDOMAN SUARA, MAKASSAR –
Khutbah Idul Adha 1447 H: Ismail Muda dan Tarbiah Keluarga Ibrahim
Oleh: Profesor dr. Budu, PhD., SP.M (K)., M.MedEd
(Anggota Majelis Diktilikbang PP Muhammadiyah/ Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan)
Disampaikan pada Sholat Idul Adha 1447 H di Halaman Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Makassar Rabu 10 Zulhijjah 1447 H/ 27 Mei 2026 M
Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ الزَّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالْأَيَّامِ وَاللَّيَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الْأَجْرُ وَالْحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ الْبِلَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ . اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Segala puji bagi ALLAH SWT, yang tiada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Milik-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta apa yang ada diantaranya. ALLAH SWT tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Dia yang Maha Agung, lagi Maha Kaya. Dan tidak satupun mahluk bergerak dan yang tumbuh di muka bumi melainkan semuanya dipelihara, diawasi dan dijamin rezekinya oleh ALLAH SWT.
Hadirin dan hadirat jamaah Idul Adha, marilah untuk terus menerus berucap rasa syukur atas segala limpahan rahmat dan karunia ALLAH SWT, yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga kita bisa berada ditempat ini dengan perasaan senang dan rasa bahagia untuk mendengarkan khutbah dan insya ALLAH menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah.
Kepada Rasulullah Muhammad SAW, marilah kita senantiasa bersalawat kepadanya, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan kepada para pengikutnya hingga akhir zaman. Dan kita semua yang ada di tempat ini marilah untuk semakin mempererat rasa persaudaraan, saling mendoakan dan saling memaafkan agar kita semakin kokoh dalam membangun pondasi silaturrahmi diantara kita.
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu
Idul Adha atau Idul Kurban adalah hari raya yang ditunggu tunggu setiap tahun dan diperingati dengan suka cita oleh segenap umat Islam di seluruh pelosok dunia sembari mengagungkan kebesaran ALLAH SWT dengan kalimat-kalimat tayyibah; takbir, tasbih, tahmid dan tahlil yang merupakan pujian dan penghambaan tulus ummat ini kepada Rab-nya.
Suasana khidmat dan rasa suka cita tidak pernah pupus dan luntur sebab memberikan makna yang dalam bagi kita semua dan bahkan memiliki makna dan misi kemanusiaan yang bersifat universal. Idul Adha selalu dirindukan dan memberikan kesan mendalam sebab dirangkaikan dengan penyembelihan hewan-hewan kurban sebagai bukti kedekatan dan rasa syukur kita kepada ALLAH SWT.
Amaliah ketaatan ini juga menandai keinginan untuk berbagi rasa dari daging hewan yang mungkin sebagian diantara kita dalam kesehariannya tidak selalu bisa memperoleh dan menikmatinya.
Tidaklah ada hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai ALLAH SWT dari hari-hari tersebut yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (HR. Bukhari). Karena pada waktu tersebut berkumpul amalan-amalan yang sangat utama, yaitu shalat, puasa, qurban dan haji.
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu
Ma’asyiral Muslimin yang dirahmati ALLAH SWT, perayaan Idul Adha adalah suatu sejarah tentang ketegaran jiwa dan kepatuhan seorang Ismail muda saat dirinya dijadikan kurban untuk disembelih oleh ayahnya Ibrahim.
Ismail adalah seorang anak mahal istilah saat ini yang akan terus dikenang, begitu lama didambakan kehadirannya oleh keluarga Ibrahim. Ia tumbuh dari bayi hingga menjadi anak yang lucu ditempat pengasingan nan jauh bersama ibundanya sitti Hajar.
Dikisahkan bahwa saat ia sudah tumbuh menjadi anak belia remaja, saat ia bisa membantu pekerjaan ayahnya, saat ia sudah bisa menemani ibundanya dikala sendirian, tiba-tiba datang perintah ALLAH SWT dalam mimpi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya itu.
Nabi Ibrahim sangat bingung dan gelisah dan merenunginya beberapa kali, dan memohon petunjuk yang benar kepada ALLAH SWT. Malam kedua mimpi yang sama datang kembali, begitupun dengan malam ketiga, saat itulah Ibrahim sangat yakin bahwa mimpi itu benar-benar perintah yang nyata dan harus dilaksanakan.
QS. As-Saffat: 102 ALLAH SWT berfirman:
“Falamma balagha ma’ahus sa’ya qala ya bunayya inni ara fil manami anni adzbahuka fanzhur maadza tara.”
Artinya, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’”
Nabi Ismail yang masih belia itu menjawab:
“Qala ya abatif’al ma tu’mar satajiduni insya Allahu minas shabirin.”
Artinya, “Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya ALLAH engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”
Dengan hati yang sedih dan raut wajah yang dipenuhi linangan air mata, keduanya harus sama-sama ikhlas dan ridha demi memenuhi perintah Tuhannya, bahkan Nabi Ibrahim harus mengorbankan anaknya sendiri, disembelih di hadapannya dan dilakukan dengan tangannya sendiri.
Nabi Ibrahim membawa putranya ke sebuah tempat dan membaringkannya di atas pelipisnya. Dikisahkan bahwa saat-saat yang menyedihkan ini, Nabi Ismail berpesan dan meminta untuk diikat dengan kencang, pisaunya dipertajam dan gerakan sembelihannya dipercepat.
Ia pun meminta salam kepada ibunya tercinta dan meminta agar wajahnya ditelungkupkan agar tak terlihat oleh ayahnya, kuartir menjadi cerita sedih untuk ayah dan ibunya. Nabi Ibrahim melaksanakan semua permohonan dan permintaan putranya itu dan saat pisau mulai bergerak, saat itu pula ALLAH SWT berfirman:
“Wa nadainahu an ya Ibrahim. Qad shaddaqtar ru’ya inna kadzalika najzil muhsinin. Inna hadza lahuwal bala’ul mubin. Wa fadainahu bidzibhin ‘azhim.”
Artinya, “Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. As-Saffat: 104-108)
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil Hamdu
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha. Itulah kisah ketegaran Nabi Ismail dalam menjalankan perintah ALLAH SWT. Dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sekalipun nyawa akan menjadi taruhannya.
Padahal di zaman itu, adalah zaman kekuatan raja dan zaman penuh dengan ketakutan dan ketidakbebasan. Saat itu adalah jaman bayi laki-laki dibunuh dan dikubur hidup-hidup tanpa rasa belas kasih.
Ibrahim dan keluarganya hidup di Zaman Raja Namrud (Nimrod) di Mesopotamia dikenal sebagai salah satu periode paling gelap dan keras dalam sejarah peradaban manusia kala itu. Namrud, dikenal sebagai penguasa yang sangat angkuh, zalim, dan mengaku sebagai Tuhan.
Pertanyaan yang sangat mendasar, ada apa dengan Ismail, mutiara apa yang ada dalam dirinya, siapa yang berada dibalik ketegaran dan kepatuhan Ismail ini?
Ma’asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha.
Jika ditelusuri dan disimak baik-baik kisah keluarga Ibrahim, maka ada beberapa hal yang membuat karakter Ismail menjadi anak yang tumbuh di tengah-tengah kekerasan alam tanah Makkah saat itu.
1. Kepatuhan Nabi Ismail AS berakar dari pendidikan iman dan kesabaran yang ditanamkan oleh ibunya (Siti Hajar) dan ayahnya (Nabi Ibrahim AS). Siti Hajar membesarkan Ismail dengan nilai-nilai ketauhidan dan ketaatan kepada ALLAH SWT.
Pendidikan karakter sejak dini sangat penting karena membentuk fondasi moral dan kecerdasan emosional anak. Periode usia dini adalah golden age di mana otak anak menyerap informasi paling cepat. Anak-anak dididik untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya sejak dini, bersabar, dan mengatasi frustasi untuk bekal di masa dewasa.
Penanaman moral sejak dini menjadi rambu-rambu agar anak terhindar dari perilaku negatif seperti perundungan (bullying), kekerasan atau intoleransi di kemudian hari. Nilai-nilai kedisiplinan, sopan santun, dan saling menghargai harus ditumbuhkembangkan agar menjadi kebiasaan alami bagi anak-anak kita. Anak yang berkarakter baik lebih mudah beradaptasi, percaya diri, dan mampu membangun hubungan positif dengan lingkungan sosialnya.
2. Nabi Ismail AS dididik dengan metode role model dengan contoh yang baik dan keteladanan langsung orang tuanya, dialog lembut penuh kasih sayang, bukan sekadar perintah. Siti Hajar adalah sosok ibu yang tabah dan penyabar, yang mendidik Ismail dalam keterasingan di lembah Makkah yang gersang, serta mengajarkan ketaatan sejak dini.
Karakter Ismail yang patuh dan tulus ini tidak lepas dari karakter orang tuanya. Bahkan Nabi Ibrahim AS dijuluki ALLAH sebagai orang yang halim.
Q.S. Hud: 75
إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ
Artinya, “Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati, dan suka kembali (kepada ALLAH)”
Orang tua adalah role model pertama dan utama bagi anak. Keteladanan ini sangat penting karena anak menyerap dan meniru perilaku, nilai, serta emosi dari apa yang mereka lihat sehari-hari, membentuk fondasi karakter, kecerdasan sosial, dan kesehatan mental mereka hingga dewasa.
“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Peribahasa ini bermakna bahwa sifat, karakter, atau perilaku seorang anak biasanya tidak jauh berbeda dari orang tuanya. Hal ini mengacu pada faktor lingkungan keluarga yang sangat membentuk atau mewarisi kebiasaan sang anak.
3. Nabi Ismail AS tumbuh di lingkungan tarbiyah (pendidikan) ilahiyah yang sangat mendalam. Keadaan terasing dari peradaban ramai saat itu justru menjadi faktor utama pembentukan kepribadiannya yang tangguh, taat, dan penuh kesabaran. Terisolir dari masyarakat jahiliyah membuat Ismail tumbuh dalam lingkungan yang bersih dari kemusyrikan. Ini menanamkan ketahanan fisik dan mental, serta kedisiplinan sejak dini.
Pendidikan dalam keterasingan menghasilkan ketaatan tertinggi, terbukti saat Ismail patuh menerima perintah untuk disembelih, yang merupakan puncak tarbiyah keikhlasan.
Lingkungan terisolir menjadikan tarbiyah intensif dari orang tua (Hajar dan Ibrahim) menjadi faktor dominan dalam pembentukan akhlak, tanpa pengaruh lingkungan luar yang negatif.
Lingkungan adalah ruang kelas pertama dan utama bagi pembentukan karakter serta tumbuh kembang anak. Mulai dari keluarga sebagai fondasi, sekolah yang terstruktur, hingga masyarakat luas, semua elemen ini secara konstan membentuk cara anak berpikir, bersosialisasi, dan mengelola emosi mereka secara alamiah.
4. Nabi Ismail AS lahir dari keluarga harmonis yang dibangun di atas fondasi iman, ketaatan, dan pengorbanan. Keluarga Ibrahim–Sitti Hajar adalah keluarga harmonis, sekalipun berpisah cukup jauh dan lama. Keikhlasan Hajar yang tulus ketika Ibrahim meninggalkannya bersama Ismail di suatu tempat yang jauh adalah teladan rasa sabar terhadap anjuran suami tercinta.
Meskipun terpisah dengan jarak dan waktu, ikatan emosional Ibrahim dengan isteri dan anaknya tetap terbangun dengan kuat. Komunikasi yang disampaikan dengan lembut atas perintah ALLAH untuk penyembelihan Ismail kecil diterima dengan penuh ketaatan baik ibu maupun Ismail sendiri.
Mereka bertiga adalah keluarga harmonis dan saling mendukung dalam menjalankan perintah ALLAH, menjadikan pengorbanan sebagai bukti cinta tertinggi.
Keluarga harmonis adalah fondasi utama bagi pendidikan anak yang sukses. Suasana rumah yang penuh kasih sayang, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional memberikan rasa aman.
Suasana ini sangatlah penting demi mendidik anak menjadi lebih percaya diri, mudah menyerap pelajaran, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi
Dukungan emosional yang kuat akan menjadikan anak tumbuh di lingkungan penuh cinta dan akhirnya akan lebih tangguh (resilience) dalam menghadapi masalah atau kegagalan.
Mendidik nilai-nilai kehidupan serta pembentukan mental yang stabil hanya bisa didapatkan secara optimal dari lingkungan keluarga yang bahagian dan harmonis.
5. Yang tak kalah pentingnya adalah doa orang tua yang tidak putus dan tak dikekang waktu. Ismail tumbuh menjadi anak yang baik dan patuh tak terlepas dari doa-doa terbaik dari ibu dan ayahnya. Doa orang tua adalah perisai pelindung serta kekuatan spiritual terbesar yang secara ajaib mampu melembutkan hati dan membentuk karakter anak.
Doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus senantiasa beriringan dengan ikhtiar mendidik, memberikan kasih sayang, serta menjadi teladan sehari-hari di dalam keluarga. Mari kita simak doa-doa Ibrahim untuk kebaikan anaknya Ismail.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.
Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah mereka rezeki dari buah-buahan, mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38).
Itulah teladan yang diajarkan kepada kita dari keluarga Ibrahim sehingga lahirlah Ismail sebagai anak yang patuh, tangguh, berkarakter, berintegritas sekaligus memiliki kelembutan hati dan kesabaran.
Keikhlasan dan ketundukannya pada ALLAH SWT dibacakan berulang-ulang dan diceritakan di setiap momen Hari Raya Idul Kurban agar menjadi contoh tauladan bagi kita semua.
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَمُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. at-Tahrim: 6).
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ . وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ . وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ . فَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اَللهُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اَللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إِلَهَ إِلاَّ اَللهُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اَلْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اَللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا .أَمَّا بَعْدُ . فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اَللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اَللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَا ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اَللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءُ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اَللهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلِذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
———————— Profesor Budu —————








