Menu

Mode Gelap
Pemkot Makassar Bongkar 16 Lapak PKL di Barawajah untuk Perluasan Jalan Dari “Kitab MA HA IS MA YA” Hingga Diplomasi Spiritual Global dan Indonesia Akan Menjadi Mercu Suar Penerang Jagat Wali Kota Makassar Munafri Dorong MIWF 2026 Jadi Panggung Sastra Dunia Viral di Tanah Suci, Jemaah Haji Asal Sinjai Akan Dibuatkan Masjid oleh Pemerintah Arab Saudi Jamaah Haji Gowa di Makkah Jalani Latihan Jalan Kaki Menuju Jamarat Kapolrestabes Makassar Ngopi Kamtibmas, Warga Diajak Awasi Anak dari Bahaya Geng Motor

Olahraga

PSM Makassar vs Bhayangkara FC Tanpa Penonton, Suporter Beri Patonro dan Badik Simbol Perang ke Pelatih

badge-check


					Suporter PSM Makassar membakar semangat pemain dengan nyanyian dan atribut merah jelang laga melawan Bhayangkara FC tanpa penonton, Makassar, Minggu (3/5/2026) (Foto: Istimewa) Perbesar

Suporter PSM Makassar membakar semangat pemain dengan nyanyian dan atribut merah jelang laga melawan Bhayangkara FC tanpa penonton, Makassar, Minggu (3/5/2026) (Foto: Istimewa)

PEDOMANSUARA.COM, MAKASSAR –Laga krusial antara PSM Makassar melawan Bhayangkara FC pada pekan ke-31 Super League 2025/2026 dipastikan berlangsung tanpa penonton.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan gelombang dukungan suporter PSM Makassar yang justru hadir langsung membakar semangat skuad Juku Eja sebelum bertolak ke Parepare.

Sekira 80 suporter yang didominasi kelompok The Macz Man mendatangi mess tim di Jalan Nuri, Kelurahan Mattoanging, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Minggu (3/5/2026) pagi.

Mereka datang dengan atribut serba merah, simbol loyalitas terhadap tim kebanggaan Sulawesi Selatan.

Kehadiran suporter ini bukan sekadar seremoni. Mereka membawa pesan kuat: PSM Makassar tidak sendiri meski harus bermain tanpa dukungan langsung di tribun Stadion BJ Habibie, Parepare, Senin (4/5/2026) pukul 16.30 Wita.

Dalam suasana penuh emosional, para pemain yang mengenakan kaos hitam bertuliskan “Rooster From The East” berkumpul membentuk lingkaran bersama suporter. Nyanyian khas bergema, mengguncang suasana pagi.

“Ayo, ayo, ayo PSM bikin malu Bhayangkara,” teriak suporter secara kompak, menciptakan atmosfer layaknya pertandingan sesungguhnya.

Momen paling simbolik terjadi saat suporter menyerahkan patonro dan badik kepada caretaker pelatih PSM Makassar, Ahmad Amiruddin.

Dua benda tersebut bukan sekadar atribut budaya, melainkan simbol perlawanan, keberanian, dan harga diri masyarakat Bugis-Makassar.

Patonro atau passapu merupakan penutup kepala tradisional yang melambangkan kesiapan bertarung. Sementara badik menjadi representasi siri’ nilai kehormatan yang dijunjung tinggi serta tekad untuk tidak menyerah dalam situasi apa pun.

Deputi Kominfo The Macz Man, Muhammad Ibnu, menegaskan bahwa simbol tersebut adalah pesan tegas kepada tim agar tampil habis-habisan.

“Patonro dan badik, ini simbol siap berperang. Raih poin agar kita bebas degradasi,” serunya yang langsung disambut teriakan “Ewako” dari seluruh suporter.

Situasi ini tidak lepas dari keputusan Polda Sulsel yang melarang kehadiran penonton dalam laga tersebut dengan alasan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Duel dua tim kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu pun harus digelar dalam suasana sunyi di tribun.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri The Macz Man, Daus, menegaskan dukungan tidak akan berhenti hanya karena tidak bisa hadir di stadion.

“Walau kami tidak ada di tribune, dukungan kami di luar akan selalu. Pemain tidak akan berjuang sendiri,” ujarnya.

Setelah prosesi doa dan penyemangat, skuad PSM Makassar bertolak menuju Parepare menggunakan bus sekitar pukul 11.01 Wita.

Suporter PSM pun mengawal perjalanan tim dari Jalan Nuri hingga Gerbang Tol Reformasi di Jalan Nusantara sebagai bentuk dukungan total.

Pengawalan ini bukan tanpa alasan. Posisi PSM Makassar di klasemen sementara masih belum aman.

Tim berjuluk Laskar Ayam Jantan dari Timur itu berada di peringkat 14 dengan koleksi 31 poin, hanya terpaut empat angka dari zona degradasi yang dihuni Persis Solo.

Kondisi tersebut membuat empat laga sisa musim ini menjadi penentuan hidup mati bagi PSM Makassar.

Suporter pun mendesak agar seluruh pertandingan disapu bersih dengan kemenangan, dimulai dari laga melawan Bhayangkara FC.

Manajer PSM Makassar, Muhammad Nur Fajrin, mengaku terharu dengan dukungan yang diberikan suporter di tengah situasi sulit tim.

“Tanpa penonton bukan berarti tanpa dukungan. Apa yang ditunjukkan suporter hari ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Ia menegaskan bahwa target tim tidak berubah, yakni meraih kemenangan di setiap pertandingan tersisa.

Momentum kekalahan Persis Solo di pekan yang sama diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menjauh dari zona merah.

“Target kita selalu menang. Kita ingin memperlebar jarak poin dan keluar dari situasi ini,” tegasnya.

Laga melawan Bhayangkara FC pun diprediksi berlangsung sengit. Selain faktor tekanan klasemen, pertandingan ini juga sarat gengsi karena mempertemukan dua tim yang pernah mencicipi gelar juara di kompetisi kasta tertinggi Indonesia.

Namun di balik semua itu, satu hal yang menjadi pembeda adalah semangat yang dibawa dari Makassar.

Patonro dan badik bukan hanya simbol, tetapi energi kolektif yang mengingatkan para pemain bahwa mereka membawa harga diri daerah.

Dalam sunyi tanpa sorakan tribun, PSM Makassar justru datang dengan “suara” yang lebih lantang suara dari jalanan, dari nyanyian suporter, dan dari simbol budaya yang menuntut kemenangan. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending di Olahraga